Rihlah Akar Tangguh 2013
6 June 2013Dalam bahasa Indonesia dikenal pepatah tak kenal maka tak sayang. Itulah ungkapan yang barang kali tepat untuk menggambarkan tujuan kegiatan Pusat Kajian Zakat dan Wakaf “eL-Zawa” UIN Maliki Malang pada hari Sabtu tanggal 25 Mei 2013. Untuk membangun hubungan emosional dengan penerima beasiswa Akar Tangguh, eL-Zawa memberikan fasilitas berupa tiket berwisata secara cuma-cuma. Tidak hanya itu, eL-Zawa juga memberikan uang saku, sehingga para penerima beasiswa dapat berwisata dengan hati gembira. Kali ini, lokasi yang dipilih adalah Jawa Timur Park I (Jatim Park I) yang terletak di Kota Batu Jawa Timur. Tempat wisata ini tidak hanya sekedar menyediakan wahana bermain saja, akan tetapi para peserta rihlah Akar Tangguh dapat memperlajari berbagai macam bidang keilmuan, seperti sosial-budaya, s...
Read moreSuryo Sigit, Wirausaha Mie Pangsit, UMKM Binaan el-Zawa 2011
“BERKEMBANG KARENA MENGUTAMAKAN RASA DAN KUALITAS”
Tak bisa dipungkiri bila tingginya kebutuhan masyarakat akan produk pangan, memberikan peluang bisnis yang tersendiri bagi para pelaku bisnis di bidang makanan. Terbukti tidak sedikit pengusaha yang membangun bisnis makanan kini berhasil meraih kesuksesannya. Seperti seseorang di bawah ini:
Pak Idit Pangsit, itulah nama panggilan saya sehari-hari. Nama lengkap saya Suryo Sigit, tinggal di Jl. Kelapa Sawit Gg. 8 No. 12 Kecamatan Sukun Malang. Usaha mie pangsit mulai dirintis pada tahun 1982. Awalnya beliau bekerja pada perusahaan Djarum sebagai pekerja internal. Saat itu beliau memegang dua mesin pada perusahaan Djarum. Selama pak Idit ini bekerja di Djarum beliau merasa bahwa pendapatan yang diterima tetap dan tidak dapat merubah kehidupan dan stabilitas perekonomian keluarga.
Berani melangkah lebih maju menjadi kata-kata yang menginspirasi Suryo Sigit dan istri untuk memulai bisnis Mie Pangsit. Sehingga beliau memutuskan untuk berhenti dari perusahaan Djarum dan memulai merintis usaha mie pangsit. Modal usaha mie pangsit beliau dapatkan dari uang pesangon yang diberikan oleh perusahaan Djarum yaitu sebesar Rp. 70.000, uang tersebut digunakan untuk membeli gerobak seharga Rp.10.000. Penjualan mie pangsit dilakukan mulai jam 17.30 sampai 19.30. Diawal usaha semua bahan untuk penjualan mie dibeli dari pasar mulai dari mie mentah untuk pangsit dan bahan-bahan pelengkapnya. Tetapi seiring perjalanan usaha, beliaupun membeli alat untuk membuat mie agar bisa membuat mie mentah sendiri. Pembuatan mie mentah dengan menggunakan alat tersebut membutuhkan waktu 3-5 jam.. Usaha mie yang dirintis pun mulai berjalan dengan lancar, masyarakat sekitar mulai mengenal dan membeli mie pangsit yang dijual sehingga beliau terkenal dengan nama Idit Pangsit yang juga terkenal mempunyai kwalitas mie pangsit yang Perfect. Pendapatan yang beliau dapatkan mulai mengalami peningkatan dan mampu untuk membiayai kebutuhan ekonomi keluarga.
Seiring bertambahnya usia, beliau kini merencanakan untuk membeli alat pembuat mie mentah yang lebih modern. Lalu menantu bapak Igit menyarankan untuk meminjam dana kepada eL-Zawa yang kebetulan menantunya bekerja sebagai karyawan di UIN Maliki Malang. Pinjaman dari eL-Zawa yang di dapatkan sebesar Rp.5.000.000. Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli mesin pembuatan mie yang menggunakan tenaga diesel. Harga mesin tersebut sebesar Rp.2.500.000. Mesin yang didapatkan bukanlah mesin baru sehingga harganya bisa lebih rendah dari pada mesin baru. Dengan menggunakan mesin tersebut tenaga yang beliau keluarkan jauh lebih sedikit. Jika dengan mesin lama tenaga yang saya keluarkan jauh lebih besar dikarenakan tanpa menggunakan bantuan tenaga listrik. Waktu pembuatan mie dengan mesin modern pun hanya membutuhkan waktu 2-3 jam. Awal pembelian mesin baru, mesin tersebut belum bisa dioperasikan karena daya listrik belum mencukupi. Akhirnya dana eL-Zawa digunakan untuk penambahan daya listrik sebesar Rp.350.000. Sisa pinjaman eL-Zawa yang masih tersisa beliau pergunakan untuk menambah pembelian bahan-bahan pembuatan mie mentah dan bumbu-bumbu mie pangsit. Minimal dalam sehari mie pangsit yang terjual sebanyak 80 porsi. Satu porsi mie pangsit seharga Rp.2500. terkadang beliau juga menerima pesanan mie pangsit dari orang-orang serta acara-acara warga masyarakat setempat, seperti pesenan untuk acara ibu-ibu PKK dan lain-lainnya.
Namun, setelah mesin itu dipakai ternyata merubah rasa mie pangsit beliau. Karena bapak Idit ini takut pelanggannya kecewa serta merubah rasa serta kwalitas dari mie pangsit tersebut dan mie pangsit yang dibuat oleh pak Idit ini tidak memakai bahan pengawet, maka bapak Igit memutuskan untuk kembali kepada proses pembuatan yang manual. Saat ini pak Idit bisa memproduksi mie pangsit menghabiskan sampai 10 kg tepung, serta omset yang di dapatkan menjadi lebih banyak menjadi berlipat-lipat dari sebelum menjadi anggota UMKM Binaan eL-Zawa. Perubahan cuaca yang tidak menentu menjadi kendala utama usaha ini. Hal ini diungkapkan oleh bapak Idit Pangsit. Menurutnya, jika hujan turun maka akan berpengaruh terhadap jumlah produksi dan pengunjung yang datang untuk membelinya.
Harapan dari bpk Idit kepada eL-Zawa agar tetap dan selalu membimbing dan membina usaha beliau sehingga menjadi sukses. Tidak ketinggalan harapan beliau juga tidak mau mengecewakan eL-Zawa yang telah memberikan modal usaha beliau, sehingga beliau bisa meneruskan usahanya dan bisa menafkahi keluarganya hingga saat ini.
Modal yang diberikan oleh eL-Zawa ternyata membuat Bpk Igit sangat berterimakasih sekali sehingga beliau ingin sekali menjaga selalu amanah yang diberikan kepada beliau dan beliau tidak mau mengecewakan eL-Zawa dalam memberikan modal yang ada tersebut.
“Harapan saya semoga program ini bisa berjalan terus, agar saudara-saudara lain yang membutuhkan bantuan dana untuk kemajuan dan pengembangan usahanya dapat terbantu. Akhirnya saya mengucapkan banyak terima kasih kepada UIN Maliki Malang khususnya pihak eL-Zawa yang telah membantu kelancaran dan kemajuan usaha saya. Sehingga saya lebih mudah dalam menjalankan usaha yang saya rintis.”














